SIAPAKAH KITA KETIKA IDUL ADHA (HARI RAYA TAUHID)

Berita Kultum

Oleh : Andi Naja FP Paraga

Stramed, Simbol Ketundukan yang Diharirayakan adalah Pengorbanan Nabi Ibrahim Alahissalam beserta Sitti Hajar Alaihassalam salah satu istri Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam Putra semata wayang pasangan yang Agung dan besar ini. Itulah Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Tauhid(Pengesahan Penyembahan) kepada Allah SWT Tuhan Semesta Alam. Keluarga Kecil Nabi Ibrahim AS ini menjadi Suri Tauladan bagaimana kokohnya Konstruksi Iman jika dibangun dengan Kontruksi yang benar dan lurus. Cobaan yang ditimpahkan bertubi-tubi kepada Keluarga ini bahkan sudah dimulai sejak Nabi Ibrahim AS dalam kandungan Ibunya dimana saat itu di Negeri Babilonia berkuasa seorang diktator bergelar Raja Namdruz yang tidak menghendaki kelahiran anak laki-laki dari Penduduk Babilonia karena akan menggulingkan kekuasaannya.

Mengenal Keluarga Nabi Ibrahim AS

Didalam Prinsip Islam Kenabian itu merupakan bagian dari Keyakinan/Iman Islam. Kenabian adalah Konsep yang menegaskan meyakini adanya Sosok-sosok manusia yang ditugaskan Allah SWT sebagai WakilNYA mengajarkan Kebenaran dan Ajaran Tuhan. Karena itu meyakini Kenabian adalah mutlak dan tidak meyakinininya berarti imannya batal/rusak atau bertolak. Kenabian adalah Sistem yang diatur dan teratur dalam otoritas Tuhan. Tidak ada satu atau sekelompok manusia memiliki otoritas menunjuk dan atau mengangkat Seorang Nabi.

Prinsip Kedua adalah bahwa Seorang Nabi berasal dari Keturunan yang terpelihara kesuciannya,terpelihara Iman Tauhidnya sehingga terpelihara Akhlak dan Ibadah serta muamalahnya. Islam menolak Seorang Nabi berasal dari Keturunan yang kafir dalam keimanannya. Islam membantah semua dalil yang mencoba merusak Susunan Sulbi-sulbi dan Rahim-rahim Suci secara turun temurun bahwa mereka tidak mendominasi Kenabian. Prinsipnya Islam menjadi Sakralitas Kenabian dari semua aspeknya. Begitu pula Asal Usul leluhur Nabi Ibrahim AS diyakini oleh Penganut Islam sebagai Pemilik Sulbi dan Rahim yang Suci.

Nabi Ibrahim AS Penegak Prinsip Keesaan Tuhan

Sejak memasuki Usia Remaja Nabi Ibrahim AS sudah menunjukkan dirinya bukan penyembah berhala dan khalayak Negeri Babilonia menjadi saksi kepribadian Nabi Ibrahim AS. Perjalanan hidupnya menjadi Sosok yang dianggap pemberontak kepada Penyembahan Berhala diawali dengan keberaniannya menghancurkan beberapa berhala-berhala kecil dengan Kapak dan meletakkan kapaknya yang sudah dipakainya pada tangan Sebuah Berhala Besar. Kekacauan pun terjadi ketika Kuil Besar itu didatangi Oleh Raja Namdruz dan Keluarganya untuk Ritual Peribadatan dan menyaksikan kondisi kuil. Sang Diktator langsung memerintahkan mencari pelakunya dan Nabi Ibrahim pun ditangkap.

Raja Namrudz memutuskan hukuman bakar hidup-hidup bagi Nabi Ibrahim AS dengan api unggun yang besar. Pembelaan Nabi Ibrahim AS atas perbuatannya semakin menambah murka Sang Diktator Babilonia itu dan memerintahkan agar api unggun dibesarkan. Pada situasi seperti itulah Nabi Ibrahim AS dibakar hidup-hidup. Banyak pihak yang menunggu kabar tentang Pembakaran Nabi Ibrahim AS dengan harapan hidup atau mati. Namun Kehendak Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa Api Unggun Besar itu justru tidak membakar tubuhnya bahkan api justru bersifat dingin diluar dari kodratnya yang panas. Nabi Ibrahim AS selamat dari kematian yang dirancang oleh Raja Namdruz dan melanjutkan perjalanannya bersama Istri Pertama beliau Sitti Sarah ke Palestina.

Nabi Ibrahim AS Pemilik Budi Pekerti yang Agung

Kedatangan Nabi Ibrahim AS dan Sitti Sarah di Palestina dan kabar keselamatan dirinya dari Api Unggun Besar Raja Namdruz tersebar begitu cepat di Negeri Palestina dan keluhuran budi pekertinya membuat penduduk Negeri Baru didatanginya kagum sehingga Raja Palestina pun mengundangnya ke Istana. Raja menjadikan Nabi Ibrahim AS dan Istrinya sebagai tamu kehormatan bahkan memberi hadiah. Salah satu hadiah yang didapatnya adalah Seorang Budak Perempuan yang kita kenal dalam Sejarah bernama Siti Hajar Alaihasalam yang kelak menjadi Istri keduanya dan menjadi Ibu Kandung dari Nabi Ismail AS Anak bahkan Putra Pertama dari Nabi Ibrahim AS. Demikianlah Nabi Ibrahim AS telah mengundang Simpati Raja dan Penduduk Palestina dengan budi pekertinya.

Perkawinan Nabi Ibrahim AS dengan budaknya bernama Sitti Hajar ternyata membuahkan kehamilan justru mendahului Sitti Sarah istri pertama beliau. Hal ini membuat rumah tangga beliau agak terusik karena Sitti Sarah justru menginginkan agar Nabi Ibrahim AS menjauhkan Sitti Hajar dari dirinya. Nabi Ibrahim AS memutuskan membawa Sitti Hajar AS ketempat paling jauh hingga ia memastikan bahwa itulah tempat yang ditakdirkan Tuhan bagi Sitti Hajar untuk melahirkan. Tempat itu adalah gurun pasir yang luas dikenal bernama bakkah yang dikemudian hari bernama Mekkah. Gurun Pasir tanpa pepohonan dan tampa air. Beliau pun meyakinkan Siti Hajar bahwa apa yang dilakukannya adalah Perintah Allah SWT Tuhan yang Maha Esa. Setelah itu Nabi Ibrahim AS kembali ke Palestina menemui Sitti Sarah Istri Pertama beliau.

Kedua Peristiwa diatas tentu bukan peristiwa biasa dan menjadi Ujian bagi Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya dalam meyakini Ketentuan Allah SWT. Keyakinan kuat Nabi Ibrahim AS ini membuatnya dijuluki sebagai Bapak Ajaran Tauhid. Beliau memberi tauladan bagaimana mempertahankan keyakinannya akan Keesaan Tuhan. Beliau pun memberi tauladan bagaimana menjadikan Tuhannya sebagai Sandaran Tunggal dalam kehidupan diri dan keluarganya. Nabi Ibrahim AS dikenal dalam Iman Kaum Yahudi dan Iman Kaum Nasrani dan menjadi Tokoh Agung dalam Iman Umat Islam.

Kelahiran Nabi Ismail AS adalah Ujian Tauhid terbesar Nabi Ibrahim AS

Kita kembali ke Gurun Pasir Bakkah tempat Siti Hajar AS dan Nabi Ismail AS kecil ditempatkan oleh Nabi Ibrahim AS. Situasi memburuk dialami Ibu dan anak bayinya hingga tak menyisahkan setetes air pun untuk diminum keduanya dalam kantong airnya. Nabi Ismail AS kecil meronta kehausan hingga matanya memerah. Melihat kondisi itu Siti Hajar berlari ke bukit Safa mencari sumber air tapi tidak ada. Ia pun kembali kepada Putranya yan tetap menangis kencang. Sitti Hajar kemudian berlari menuju Bukit Safa melanjutkan mencari sumber air tapi hasilnya sama saja. Ia pun kembali kepada Putranya dengan tangan kosong dan masih menyaksikan putra kesayangan menangis kencang. Sitti Hajar AS bangkit lagi bolak balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwa tujuh kali tanpa hasil. Ternyata Perjuangan Agungnya itu mengundang Rahman dan Rahim Allah SWT . Kali yang ketujuh ia kembali menemui putranya ia mendapatkan air yang keluar dari kedua hentakan kaki putranya dan ia berkata zam-zam artinya berkumpullah. Ia dan putranya meminum sepuasnya dari Sumber air tersebut. Kelak kemudian sumber air itu disebut Sumur Zam-zam.

Hadirnya Sumur Zam-zam membuat Para Musafir banyak mampir di Bakkah. Ada yang melanjutkan perjalanan tapi tidak sedikit yang menetap. Sitti Hajar dan Nabi Ibrahim AS serta Para Musafir yang menetap merupakan Penduduk Pertama Kota Mekkah. Mereka membangun pemukiman dan peradaban di Sekeliling Sumur Zam-zam. Karena rasa rindu dan tanggung jawab yang besar kepada istri dan anaknya Nabi Ibrahim AS mengunjungi keduanya dan kala itu Nabi Ismail AS sedang beranjak remaja. Keluarga Kecil inipun sangat bahagia di Bakkah hingga satu mimpi yang merupakan Wahyu Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk menyembelih Putra Semata Wayangnya.

Ujian Tauhid Terbesar adalah Perintah Penyembelihan Nabi Ismail AS

Nabi Ibrahim AS akhirnya memberitahu Istri dan anaknya tentang Wahyu Allah SWT yang bersifat Perintah Mutlak ini. Ketiganya Pasrah atas kehendak Allah SWT dan Proses Drama paling menegangkan dalam sejarah pun terjadi. Iblis Laknatullah langsung turun tangan meminta kepada Nabi Ibrahim AS dan Keluarga untuk tidak mematuhi Perintah Allah SWT. Iblis Laknatullah menyodorkan berbagai dalil/Argumentasi rasional agar Ibrahim AS serta keluarganya menolak perintah Allah SWT dan membuat kekesalan keluarga ini hingga ketiganya melempar Iblis dengan batu batu kecil.

Ketika ketiganya telah sampai pada puncak kelasparahan tertinggi untuk melakukan penyembelihan itu Allah SWT mengirimkan Malaikat Jibril AS menghentikan Ibrahim AS dan Keluarganya dan menggantikan Penyembelihan itu dengan Seekor Domba Gemuk. Nabi Ibrahim AS kemudian menyembelih hewan tersebut dan dagingnya dibagi-bagikan kepada Penghuni Bakkah/Mekkah. Begitulah Proses sebuah ujian yang selalu menegangkan tapi pada akhirnya Allah SWT Tuhan yang Maha Esa menentukan Akhir Ujian itu. Inilah Puncak Tauhid yang sesungguhnya yang dilalui Nabi Ibrahim AS,Sitti Hajar AS dan Nabi Ismail AS. Ketiganya diabadikan didalam Kitab Suci Al Qur’an dan seluruh Perbuatan Ketiganya menjadi Ritual Ibadah Haji yang kekal. Akhirnya kita berkesimpulan bahwa Idul Adha adalah Hari Tauhid Puncak dari Prestasi Pengesaaan Allah SWT yang dirayakan di Seluruh Dunia.

Saya menutup tulisan ini dengan Senandung kalimat Tarbiyah : Labbayka Allahuma Labbayka. Labbayka la Syarika laka Labbayka. Innal Hamda wa Nikmataka Laka Wal Mulk La Syarika Lak Duhai Allah kami memenuhi PanggilanMU. Duhai Allah yang tiada Sekutu BagiNYA kami memenuhi PanggilanMU. Segala Puja dan Puji untukMU dan Segala Nikmat dariMU dan MilikMu segala Kekuasaan. Air mata menetes merindukan Nabi Ibrahim AS dan Keluarganya. Mata dan hati kami merindukan Baitullah. Namun apa daya kerinduan ini harus dinikmati karena Pembatasan Jemaah Haji akibat dari Wabah Covid19.( ANFPP290720)

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *