JANGAN LATAH INOVASI TEKNOLOGI

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Geotimes

Stramed,  Melihat perkembangan isu yang kian menggeliat di ranah digital dan inovasi teknologi Indonesia, dari proyeksi ekonomi digital yang akan meledak di Indonesia, industri 4.0 yang kini telah di buat peta pengembangannya, dan perusahaan startup yang lebih di kenal dengan perusahaan rintisan Indonesia terbesar di Asia tenggara.

Optimis tentu saja merupakan sikap yang tidak di larang dan bertindak lebih baik daripada tidak bertindak. Permasalahannya adalah kemajuan pesat inovasi teknologi dan segala proyeksinya yang begitu meyakinkan, akan menjadi tidak maksimal, dan bolehlah di katakan, hanya akan di nikmati oleh segelintir pihak yang berfokus pada sektor tersebut.

loading...

Serapan tenaga kerja atau efek potensial ekonomi yang berkaitan dengan inovasi teknologi yang memberikan implikasi bagi masyarakat sebenarnya tidak akan begitu berarti, jika Sumber daya manusia ( SDM) tidak di cerdaskan terlebih dahulu sehingga siap memamfaatkan potensinya.

Semakin bertambah parah, inovasi teknologi sangat rentan di gunakan untuk eksploitasi ekonomi oleh sekelompok orang saja dengan berbasis konglomerasi perusahaan, sehingga menciptakan monopoli. Ini jelas akan menghalangi perkembangan perusahaan sejenis, karena strategi perusahaan yang memonopoli cenderung memainkan harga lebih murah, diskon karena faktor distribusi yang mapan dan memiliki kapital besar. Bagaimana solusinya agar isu teknologi yang kian strategis bagi sebuah negara dapat lebih membuka peluang dan kesempatan bagi masyarakat agar lebih produktif ? Terlebih bagi generasi muda, yang nantinya akan melimpah di Indonesia karena perubahan struktur penduduk  yang sering di sebut dengan bonus demografi.

Peran pemerintah dalam membangun ekosistem yang berkaitan dengan ekonomi digital dan segala yang terkait dengan industri pendukungnya, haruslah mengutamakan dan mendukung bertumbuhnya SDM yang memiliki kapasitas sebagai inventor dan pengusaha di bidang tersebut. Kedua belah pihak harus lebih semakin di berikan stimulus pendanaan agar lebih giat menciptakan sesuatu yang mampu menyokong perkembangan zaman sehingga tidak tergantung pada inovasi dari luar negeri.

Hal tersebut, hanya mungkin di laksanakan dan di realisasikan dengan dukungan anggaran yang layak, paling tidak pemerintah bisa bercermin dari anggaran riset dan teknologi ( Ristek ) negara-negara yang telah terlihat maju dengan memaksimalkan anggarannya di bidang tersebut. Korea selatan dan Jerman memiliki rasio 4 dan 3 persen anggaran ristek dari Produk Domestik Bruto ( PDB), sehingga tidak heran, banyak produk inovasi teknologi yang maju pesat di negara tersebut seperti gawai, mobil, komputer, alat pertanian, alat-alat berat dan sebagainya.

loading...

Menyelisik anggaran ristek Indonesia yang masih 0,2-0,5 Persen dari 2 tahun belakangan, sangat tidak mungkin, jika tidak ingin di katakan mustahil, daya ungkit kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ( Iptek ) yang mendorong ekonomi digital dan industri yang terkait,tidak akan bertumbuh, jika  bergerak bagai keong—bergerak tapi tidak begitu signifikan karena tidak sampai ketujuan dengan lebih gesit. Padahal , inovasi teknologi sangat identik dengan kecepatan dan efisiensi.

Jika solusi anggaran tidak mendukung, kita mungkin hanya bisa berharap, khususnya kaum muda dan pelaku teknologi kepada ekosistem inovasi teknologi yang harus di bangun mandiri sambil terus melakukan advokasi agar pemerintah tidak hanya mengeluarkan isu dan hiruk pikuk diskusi , seminar dan kajian yang tidak berkesudahan tapi nihil percepatan yang termanifestasi dalam bentuk anggaran dan kebijakan.

Ekosistem dalam bentuk cluster&co-working , di mana investor, pelatihan, rekayasa produk & jasa  dalam satu lingkaran terkoneksi . Hal tersebut lebih efisien& di butuhkan dalam membangun ekonomi digital beserta industri pendukungnya. Ekosistem dapat di mulai dengan mendirikan sebuah komunitas dan asosiasi agar bisa saling mendukung dan bertukar informasi.

Dalam konteks ini, mendukung tidak hanya dalam bentuk pertemanan tapi juga kemudahan dalam mendapatkan partner bisnis dan investor sehingga akselerasi perusahaan lebih pesat dalam penetrasi pasar. Pada akhirnya akan berimplikasi pada daya serap tenaga kerja. Komunitas dan asosiasi harus memiliki visi yang progresif dengan sering turun tangan berbagi ilmu dan melakukan kompetisi di kampus-kampus seluruh Indonesia.

Tidak hanya sebatas seminar semata. Dengan aktifnya para pelaku di bidang teknologi tentu akan terbuka kemungkinan perusahaan swasta yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam mengembangkan ekosistemnya, baik itu dari segi promosi, dukungan investasi, dan training.

Mengapa mereka mau ? Terang saja, karena pasar kaum muda sangat besar dan berlipat ganda karena perubahan struktur populasi Indonesia mengalami surplus bonus demografi, seperti yang sampaikan di awal. Harapannya tentu saja menciptakan animo kaum muda dalam memahami peluang baru di bidang teknologi sekaligus menciptakan sikap mental wirausaha agar kaum muda tidak hanya latah membangun sebuah perusahaan rintisan atau perusahaan teknologi hanya karena merasa lebih keren tanpa memiliki misi problem solving yang nyata sehingga menjadi agen perubahan sosial produktif di tengah masyarakat.

Terus melakukan advokasi, membangun komunitas dan asosiasi,inilah yang merupakan langkah yang lebih efektif dalam mengonsolidasikan pemamfaatan momentum inovasi teknologi yang saat ini tengah mengglobal. Ini tentu akan lebih terasa signifikan & menggairahkan jika berkomitmen di lakukan secara bersama-sama.

Dengan semangat sila ke-3, semoga daya ungkit inovasi teknologi menjadi kemajuan peradaban bangsa Indonesia di masa depan. Alhasil, seperti kata pepatah, “Perjalanan seribu mil, tetap di mulai dari langkah pertama”.

Beny Manurung (Penulis Lepas/Ketua Komunitas Peduli Bonus Demografi)

Sumber: Ayobandung.com

Leave a Reply

Next Post

BIN SINERGIKAN HUMAS ANTAR KEMENTERIAN DAN LEMBAGA UNTUK AMANKAN KEBIJAKAN JOKOWI

Thu Dec 12 , 2019
Foto: Ilustrasi, sumber […]